Paradigma Pendidikan dan Bahasa Daerah

0
169

Surrahman
Oleh:
Surahman S. Pd, M. Pd
akademisi FKIP Universitas Tadulako sekaligus praktisi

Pendidikan dan kebudayaan adalah fondasi untuk membangun jati diri bangsa. Salah satunya, dengan memajukan paradigma pendidikan dan bahasa daerah.

Selama ini kurikulum kita sudah bagus, hanya saja prakteknya yang masih berparadigma behavior. Yaitu, praktek belajar yang hanya berlandaskan pada kepuasan hasil mengajar dan belajar. Tanpa ada evaluasi dari proses belajar mengajar itu. sehingga berdampakkepada kurangnya partisipasi siswa.

Akbatnya, dengan paradigma seperti itu, sekolah menjadi terasa bosan bagi siswa. Sebab, naluri siswa untuk mencari tahu pelajaran yang dipelajari, kurang terpancing niatnya.

Perlu ada metode terbarukan dalam memajukan cara mendidik dengan mengedepankan kreatifitas siswa dan partisipasi siswa.

Orientasi kurikulum sudah mengarah pada pembelajaran konstruktivis, namun sebagian guru sebagai pelaksana pembelajaran yang masih menganut prinsip behavior. Sehingga kita mendapati bentuk pembelajaran yang cenderung monoton, jadi jangan heran jika saat ini anak-anak seperti senang jika tidak sekolah.” Kata Surahman.

Perlu ada terobosan pada metode belajar mengajar yang sesuai dengan keadaan dan keinginan siswa. Selain itu, kunci membangun karakter bangsa yang berkepribadian adalah penanaman kebudayaan daerah di setiap mata pelajaran sekolah. Seperti bahasa daerah.

Khusus Kabupaten Morowali Utara, agar anak muda zaman sekarang ini mau menghargai kebudayaan daerahnya adalah dengan mempelajari bahasa daerahnya sendiri. Tidak cukup hanya dengan menyuruh siswa menggunakan atribut kebudayaan setiap hari senin. Karena kebudayaan dan bahasa daerah jauh lebih penting untuk dipahami.

Untuk tidak kehilangan jati diri, kita perlu mempelajari bahasa daerah. Khususnya dari Morowali Utara, disana ada bahasa asli Mori dan Wana. Bahasa ini, perlu ditanamkan di kurikulum dan mata pelajaran di sekolah-sekolah.

Pendidikan berkaitan erat dengan bahasa. Bagaimana kita mau melaksanakan pendidikan yang mengangkat nilai-nilai kearifan lokal Morowali Utara yang membentuk karakter, jika bahasa daerahnya saja kurang diketahui. Mulai sekarang mari kita coba gerakkan kembali penggunaan bahasa mori di sekolah-sekolah dari SD Hingga SMA.

Untuk kemajuan pendidikan di Hardiknas khususnya di Morut, Kita sebagai pendidik maupun seluruh elemen yang berkaitan dengan pendidikan agar kembali sadar bahwa penentu keberhasilan, kemajuan dan pembangunan suatu daerah maupun suatu bangsa ditentukan oleh sumber daya manusianya, maka pendidikan merupakan jantung dari peningkatan sumber daya manusia tersebut.

Maka perlu kita mengupayakan agar setiap hal yang dilakukan untuk mendidik generasi kita agar berorientasi pada kecintaan kepada daerah, adat istiadat dan bangsa. Sehingga ketika mereka selesai menempuh pendidikan, mereka akan membangun daerah dengan penuh rasa tanggung jawab. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here